Mahasiswa Peraih IPK 3.94 UIN Ar-Raniry, Bohongi Orang Tua untuk Kuliah
Suasana haru menyelimuti gedung besar
yang dipenuhi oleh mahasiswa dan tamu undangan. Hari itu menjadi langkah
akhir mereka di kampus biru, Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry,
Banda Aceh. Setiap wisuda memang menjadi momen, dimana banyak air mata
yang tumpah.
Melihat anaknya menyandang gelar sarjana
merupakan impian dan harapan setiap orang tua. Air mata haru melihat
putra-putri mereka mengenakan baju toga. Lebih-lebih ketika salah
satunya ternyata menjadi mahasiswa terbaik se-Universitas tempat mereka
menuntut ilmu selama ini.
Selamat Ariga misalnya, mahasiswa asal
Aceh Tengah ini merupakan mahasiswa terbaik UIN Ar-Raniry dengan IPK
3.94, pada wisuda semester ganjil tahun akademik 2018/2019. Ia menjadi
sarjana lulusan Hukum Pidana Islam dalam waktu tiga tahun setengah.
Kisahnya untuk melanjutkan pendidikan
Strata 1 (S1) hingga menjadi mahasiswa terbaik se-UIN Ar-Raniry tidaklah
mudah. Ia bahkan sempat membohongi kedua orang tuanya hanya untuk
melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.
Ariga merupakan anak ke tujuh dari tujuh
bersaudara yang dibesarkan dan dididik dalam keluarga petani kopi di
daerah tempat tinggalnya.
Keadaan ekonomi tak membuatnya patah
arang dalam menuntut ilmu. Meski kedua orang tuanya tidak mengizinkan
dirinya untuk melanjutkan pendidikan S1.
"Dulu orang tua enggak kasih saya
kuliah, karena keadaan ekonomi. Orang tua takut enggak ada biaya. Orang
tua takut kalau nanti akhirnya saya kecewa karena harus putus kuliah di
tengah jalan," kata Ariga disela-sela prosesi wisuda semester ganjil TA
2018/2019, Selasa 26 Februari 2019 di Auditorium Prof Ali Hasjmy,
Darussalam Banda Aceh.
Niatnya melanjutkan pendidikan, bahkan
memaksa dirinya untuk berbohong. Ia membohongi kedua orang tuanya bahwa
telah menerima beasiswa.
"Waktu itu bohong sama orang tua. Bilang
ke orang tua kalau udah dapat beasiswa. Padahal waktu itu belum dapat.
Tapi pokoknya yakin aja. Sampai ngajak kepala sekolah untuk ikut
bohongin orang tua. Saya mohon-mohon, nangis-nangis. Pokoknya harus bisa
kuliah. Awalnya kepala sekolah enggak mau. Tapi ternyata di depan orang
tua saya. Kepala sekolah bilang kalau saya memang sudah dapat
beasiswa," katanya.
Kebohongan yang ia lakukan untuk
kebaikan ternyata membuahkan hasil. Dirinya kemudian diterima di UIN
Ar-Raniry melalui jalur undangan SPAN-PTKIN. Sebenarnya ada beberapa
perguruan tinggi yang juga meluluskannya sebagai mahasiswa. Namun ia
memilih UIN, dikarenakan ingin tetap melanjutkan pendidikan yang
berbasis agama. Sebelumnya ia merupakan santri di salah satu pondok
pesantren di daerah tempat tinggalnya.
Di awal perkuliahan, lagi-lagi ia harus
membohongi orang tua, bahwa beasiswa yang ia dapatkan belum keluar.
Sehingga ia meminta biaya untuk kuliah pertama dari orang tuanya.
"Saya bohongi orang tua lagi. Saya
bilang, beasiswa belum keluar. Jadi untuk biaya kuliah awal. Saya masih
minta orang tua dulu. Ayah saya pun akhirnya mendukung. Membiayai untuk
kuliah awal. Pokoknya jangan sampai putus asa," katanya.
Melakukan kebohongan nyatanya tak bisa
ia lakukan dalam jangka waktu yang lama. Hingga akhirnya ia memutuskan
untuk mencari perkejaan. Putra pasangan Abd Wahab As dan Siti Kurnia
ini kemudian menjadi penyiar di salah satu radio swasta. Selain itu, ia
juga menjadi guru Bimbingan Belajar (Bimbel) sekaligus guru les private
di perumahan dosen.
Di tengah perjalanan kuliah di semester
awal. Ia pun mendapatkan informasi beasiswa Bidikmisi. Niatnya agar
mendapatkan beasiswa tersebut membuat dirinya berusaha tak hanya
sebatas melengkapi persyaratan penerimaan beasiswa saja. Dalam waktu
yang terbilang singkat, ia juga mengumpulkan sertifikat-sertifikat
prestasi dan juga kegiatan, yang kemudian menjadi pertimbangan panitia
penerima beasiswa.
"Pas ada info beasiswa Bidikmisi. Saya
berusaha semaksimal mungkin. Saya enggak mau cuma ngumpulin berkas yang
diminta saja. Karena orang lain pasti juga melakukan hal yang sama. Saya
mau melakukan hal yang lebih dari orang lain. Hingga dalam waktu yang
singkat, saya ikut banyak kegiatan untuk dapat sertifikatnya. Dan
Alhamdulillah, saya akhirnya lulus beasiswa Bidikmisi. Nangis, sujud
syukur lama sekali. Sampai orang liatin saya. Pokoknya waktu itu saya
nggak pikir malu lagi," ujarnya.
Di mata keluarga dan sahabat
Menjadi mahasiswa terbaik tak melulu
harus menjadi seseorang yang kemudian kurang dalam nilai sosial. Ariga
merupakan sosok yang sangat mudah bergaul di kalangan teman-temannya.
Bahkan ia mengaku, awal menginjakkan kaki ke Ibu Kota Provinsi Aceh, ia
menetap di tempat tinggal salah satu sahabatnya.
"Awal saya ke Banda Aceh, saya tinggal
sama sahabat saya. Maulana namanya. Itu dari semester satu, kemana-mana
dia yang selalu antar saya. Sampai pas semester tiga saya beli sepeda
hasil uang beasiswa. Baru pas semester lima akhirnya orang tua
memutuskan untuk membelikan sepeda motor. Di situ saya mulai lebih jauh
lagi beraktivitas," ujarnya.
Ariga yang sejak kecil telah menunjukkan
tingkat kecerdasan yang berbeda dari anak-anak seusianya tentu menjadi
obat untuk keluarga, terlebih ibunya.
"Dari kecil udah keliatan beda, kalau diajak kemana-mana dia pintar. Orang di kampung juga tau sifatnya," kata Siti Kurnia.
Menurutnya, dirinya sempat tidak
mengizinkan Ariga melanjutkan pendidikan tinggi bukan disebabkan ia tak
mendukung pendidikan anak. Ia mengaku dirinya tak lagi muda dan kerap
sakit. Sehingga takut tidak bisa membiayai kuliah Ariga.
"Usia saya udah tua, udah sering sakit.
Nggak sanggup kerja lagi. Karena dari dulu udah kerja berat. Apa aja
saya lakuin selama halal untuk biaya pendidikan anak. Tapi untuk kuliah,
saya merasa tidak sanggup. Cuma pas tau dia dapat beasiswa. Saya
dukung, karena dia udah punya niat," katanya.
Aktifitas yang padat, kuliah, organisasi
serta bekerja nyatanya tidak membuat dirinya dijauhi oleh
teman-temannya. Ariga kerap bergabung di sela waktu kosong, atau mengisi
acara yang dilakukan oleh organisasinya. Namun demikian, di mata para
sahabatnya, Ariga merupakan sosok yang sangat tertutup.
"Kalau bicara tentang Ariga, berbicara
tentang sosok yang misterius. Sebab yang pertama dia itu susah di tebak.
Karena tiba-tiba saya dapat kabar dia udah di Thailand, udah di sini,
udah di sini lagi. Tau-tau udah wisuda. Bahkan yudisiumnya kapan aja
saya nggak tau. Tapi Ariga memang sosok pekerja keras, dan sangat mudah
berorganisasi," kata Abdullah yang merupakan sahabat dekat Ariga.
Prestasi yang pernah diraih
Ariga tak hanya meraih prestasi akademik
saja. Ia juga kerap meraih prestasi non akademik. Dirinya kerap menjadi
pembawa acara dalam berbagai kegiatan baik dalam kampus maupun di luar
kampus, seperti pembawa acara pada pionir tahun 2017 sekaligus MC dan
Presenter Kementerian Agama. Ia juga merupakan Wakil Dua Duta Wisata
Aceh Tengah tahun 2017.
"Alhamdulillah ada beberapa prestasi
yang pernah diraih. Pernah ikut program studi banding dari Mesjid Raya
Baiturrahman, ke Malaysia, Thailand, dan Singapura," kata Ariga.
Selain itu, ia juga kerap menjuarai
debat hukum di berbagai event. Saat ini Ariga juga telah bergabung di
Kejaksaan Tinggi Aceh, sebagai Pramubhakti bidang Pidana Khusus.
Bulan Juni mendatang, ia juga akan
melakukan kunjungan ke Amerika selama tiga bulan sebagai peserta dalam
Internasional Camp Staff Program of Boys Scout of America (ICPS).
Baginya, kuliah tetaplah nomor satu
meskipun banyak melakukan kegiatan lain. Yang terpenting adalah gemar
mencari informasi, dan juga mengatur waktu dengan baik.
"Tujuan awal tetap kuliah, jadi kita
fokus kuliah. Tapi nggak menutup kemungkinan untuk aktif di tempat lain.
Saya juga bergabung di Himpunan Mahasiswa Prodi, dan banyak organisasi
lainnya. Dan saya merupakan salah satu orang yang selalu membuat jadwal.
Bahkan dari mandi, makan dan sebagainya saya selalu tulis. Kalau sudah
saya lakukan saya ceklis," ujarnya. []
Sumber : uin.ar-raniry
Post a Comment